Assalamu'alaikum, selamat membaca semoga dapat memberi manfaat, amin.
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2018

MENELADANI KESABARAN IBRAHIM DALAM IMAN DAN TAKWA SEBAGAI MODAL UTAMA MENGISI KEMERDEKAAN BANGSA (Khutbah Idul Adha 1439H / 2018 M)


MENELADANI KESABARAN IBRAHIM DALAM IMAN DAN TAKWA SEBAGAI MODAL UTAMA MENGISI KEMERDEKAAN BANGSA
Oleh: Isa Ansori

Hadirin Jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Pada hari ini, sejak terbenam matahari kemarin sore, hingga hari-hari tasyrik yang akan datang, umat Islam di seluruh dunia bertakbir, bertahlil, bertahmid, dan bertasbih memuji ke-Mahabesaran Allah, Tuhan semesta alam. Mereka bersama merayakan hari raya Idul Adha.
Idul Adha berasal dari bahasa Arab, yaitu kata ‘Id’ yang berarti hari raya, dan kata ‘adha’ dari kata ‘udhiyya’ yang berarti korban atau pengorbanan. Dengan demikian, Idul Adha berarti hari raya korban. Dinamai demikian, karena pada dasarnya kita diminta oleh Allah untuk mensuritauladani keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dan puteranya dalam melaksanakan perintah dan menerima ujian Allah SWT. Ibrahim memenuhi perintah Allah dengan berkorban menyembelih Ismail puteranya yang disayangi. Perintah ini adalah salah satu bentuk ujian, yang merupakan cara Allah untuk mengetahui seberapa besar kadar keimanan dan ketakwaan Ibrahim dan puteranya kepada Allah SWT. Apakah mereka lebih memilih menaati perintah Allah, atau memilih cinta dan kasih sayang antara bapak dan anak yang memang telah lama mereka terpisah.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ ۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji. (Al-Mumtahana: 6)
Dalam ayat yang lain Allah menceritakan:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (As-Saaffaat: 102)
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita baik sebagai individu, maupun kita sebagai bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, akan selalu mendapatkan ujian dan cobaan dari Allah SWT yang datang silih berganti.
Sebagai individu betapa sering kita mendapatkan ujian yang datang dari beragam penjuru, karena pada hakikatnya apa yang ada di sekeliling kita adalah ujian. Istri kita adalah ujian, kita diuji apakah kita mampu mengajaknya untuk selalu taat dan bertakwa kepada Allah. Anak-anak kita adalah ujian, apakah kita mampu mendidik dan mengarahkan mereka untuk taat dan beribadah kepada Allah. Harta benda kita juga ujian, apakah kita mampu mencari dan mengumpulkannya dengan cara halal, dan membelanjakannya di jalan yang benar yang Allah ridha’i.
Allah berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Al-Anfaal: 28)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu mema'afkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghaabun: 14).
Kita sebagai bangsa Indonesia yang baru saja merayakan hari kemerdekaan, juga tidak luput mendapat ujian dari Allah. Kita tahu betapa banyak ujian yang Allah timpakan kepada bangsa Indonesia, baik sebelum kita merdeka, dan terus berlangsung hingga saat ini, saat kita mengisi kemerdekaan. Pada jaman pra kemerdekaan, kita diuji dengan kekejaman penjajah Belanda dan Jepang, yang juga berusaha untuk memisahkan mbah-mbah kita yang Muslim dari ketaatan beribadah dan mengamalkan syariat Islam. Sehingga para ulama, tokoh-tokoh agama bersama mbah-mbah kita pada masa itu berjuang dengan gigih mengorbankan harta bahkan nyawa agar dapat meraih kemerdekaan dan kebebasan dalam beribadah menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT. Para pendahulu kita berjuang melawan penjajah dengan penuh ikhlas dan sabar semata mengharap ridha Allah, sehingga ujian dan cobaan itu berhasil dilalui. Allah mengabulkan dan mewujudkan harapan mereka, hingga kita generasi sekarang bisa merasakan dan menikmati kemerdekaan yang merupakan anugerah besar dari Allah yang diberikan kepada bangsa kita.
Pada saat mengisi kemerdekaan sekarang ini, beragam ujian juga terus diturunkan. Satu diantaranya adalah ujian dalam menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. Keragaman suku, agama, ras, dan golongan adalah anugerah Allah yang besar jika dikelola dengan benar sebagai modal untuk mengembangkan kejayaan dan kemakmuran bersama. Allah mengajarkan kepada kita bagaimana mengelola perbedaan ini dengan baik, yaitu dengan cara  bersatu saling kenal mengenal, bekerja sama, dan saling berlomba dalam kebaikan dan takwa dalam rangka membangun negara. Marilah kita terus bersatu padu dalam membangun bangsa dan negara kita sesuai dengan fungsi dan peran kita masing-masing. Terus kembangkan sikap toleransi, dan saling menghargai terhadap beragam perbedaan yang ada. Hindari perpecahan dan permusuhan, karena itu akan mendorong kita kepada kerusakan dan kehancuran.
Bukankah Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujuraat: 13)
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqara: 148)
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَ‌ٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (104)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran: 103)
Hadirin Jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Sebagai individu maupun bangsa, marilah kita selalu bersiap diri menghadapi ujian-ujian dari Allah yang akan terus datang silih berganti. Ujian itu terus diberikan, karena Allah ingin melihat siapakah di antara kita, siapakah bangsa di dunia ini, yang patuh, ikhlas, sabar dalam berbuat kebaikan dan menjalani perintah Allah SWT. Mereka yang terbaik adalah yang paling bertakwa. Inilah fungsi kita sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan kehidupan bumi dan mencapai kebahagiaan hidup hingga akhirat dalam ridha Allah SWT.
Allah berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk : 1-2)
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَـٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqara: 155-157).
Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ يَسَارٍ أَبَا الْحُبَابِ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
Dari Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah bahwa dia berkata, saya mendengar Sa'id bin Yasar Abu Al Hubbab berkata; saya mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa di kehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan mengujinya."  (BUKHARI - 5213)
Dalam hadis lain diceritakan:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (TIRMIDZI - 2320).
Hadirin Jamaah Sholat Idhul Adha yang dirahmati Allah
Bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang beriman dalam menghadapi dan menyikapi semua ujian? Dalam menghadapi setiap ujian, marilah kita ikuti petunjuk Allah yaitu bersabar, dan terus bekerja keras yang biasa disebut dengan beramal saleh dalam usaha keluar dari kesulitan itu. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa, bertawakal, selalu optimis bahwa Allah akan mengangkat kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, serta menguatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Kita harus selalu ingat janji-janji Allah dalam firman-Nya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ (7) وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب (8)
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain , dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Ash-Sharh: 5-8).
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (At-Talaaq: 2)
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (At-Talaaq: 3)
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (At-Talaaq: 4)
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (At-Talaaq: 5)
Janganlah pernah kita berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah, ini sebagaimana dikatakan oleh Nabi Ibrahim dalam firman Allah:
قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat". (Al-Hijr: 56)
Selanjutnya, kita wariskan semangat ikhlas, sabar, kerja keras, pantang putus asa dengan landasan tauhid ini kepada anak-cucu generasi penerus kita. Sebagaimana juga diajarkan oleh Nabi Ibrahim, seperti tersebut dalam firman Allah:
وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (Az-Zukhruf: 28)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku. (Ibrahim: 40).
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Al-Baqara: 132)
Demikianlah khutbah ini, semoga Allah menjadikan kita dan bangsa kita sebagai pribadi dan bangsa yang mampu mensuritauladani Nabi Ibrahim dalam ikhlas, sabar, kerja keras, dan pantang putus asa, serta melandaskan semuanya itu kepada tauhid mengesakan Allah SWT, dalam mengisi kemerdekaan bangsa kita, Amin.

Jumat, 22 Februari 2008

MUSIBAH: ANTARA AZAB DAN UJIAN

MUSIBAH: ANTARA AZAB DAN UJIAN
Oleh : Isa Ansori

Dalam satu dekade terakhir, beragam musibah mendera bangsa Indonesia. Dimulai dari krisis moneter sekitar tahun 1997 yang mendorong naiknya harga semua kebutuhan hidup primer dan skunder sehingga mayoritas masyarakat menjadi miskin dan sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penyebab keadaan ini sangat komplek, yang banyak disebut adalah karena kuatnya korupsi, kolusi dan nepotisme yang seakan membudaya pada rezim Orde Baru (dan sepertinya terus berlanjut hingga saat ini meski usaha untuk memberantasnya digalakkan), sehingga memaksa rezim ini runtuh dan digantikan oleh penguasa era reformasi. Belum lama pemerintah era reformasi membenahi Indonesia untuk lebih baik, beragam musibah kembali mendera, bencana alam datang silih berganti dari gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantahkan ujung pulau Sumatera Aceh dan sekitarnya menelan ratusan ribu korban jiwa dan harta benda yang tak ternilai, hingga gunung meletus, banjir, angin puting beliung, kebakaran hutan, lumpur, beragam kecelakaan sarana transportasi baik darat, laut maupun udara dan masih banyak lagi sederat musibah yang terjadi hingga saat ini terus menghampiri seolah tak pernah berhenti.

Bertanyalah kita mengapa semua ini terjadi? Dan Bagaimanakah seorang Muslim menyikapi?

Menjawab pertanyaan ini, kita mulai dari maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah menciptakan jin dan manusia tiada lain adalah untuk semata beribadah dan mengabdi dengan ikhlas kepadaNya.
Untuk menuntun umat manusia agar selalu berada pada jalan lurus yang diridhaiNya, Allah telah menurunkan Al-Qur’an melalui RasulNya Muhammad SAW. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Firman Allah:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ. البقرة:1-2
“Alif laam miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Al-Baqarah: 1-2)

Al-Quran menjelaskan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan oleh manusia dan juga yang harus di jauhi untuk menggapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia hingga akhirat. Inilah jalan yang lurus yang harus dilewati manusia jika menginginkan keselamatan, keberuntungan dan kesuksesan di dunia hingga setelah masa kematiannya. Jika tidak maka kekakacauan sosial dan bencana akan menimpa manusia di dunia dan setelah kematiannya. Adanya kehidupan dunia yang bersambung terus ke alam setelah kematian adalah suatu ujian adakah manusia telah menyembah dan beribadah sesuai dengan kehendakNya. Firman Allah:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ. الملك:1-2
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk: 1-2)

Allah Maha Adil dalam menilai dan membalas amal perbuatan manusia. Barang siapa berbuat baik dengan sesamanya dan alam lingkungan sekitarnya maka balasan kebaikan diterima berupa ketentraman dan kesejahteraan hidup di dunia hingga akhirat dan sebaliknya siapa yang membuat kerusakan dan kekacauan pada sesama dan alam lingkungan sekitarnya, maka kekakacauan hidup dan bencana akan ia terima di dunia dan akhirat. Manusia adalah makhluk sosial, setiap tindakan individu akan berimplikasi pada individu yang lain. Dan setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap setiap apa yang ia kerjakan. Firman Allah:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ. الزلزلة: 1-2
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Al-Zalzalah: 1-2)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ. الروم: 41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Rum: 41)

Dengan demikian beragam musibah baik berupa kesulitan hidup atau bencana alam bila kita lihat dari kaca mata ini dapat berarti:

1. Azab atau murka Allah kepada mahluknya karena telah melanggar kewajiban untuk selalu menyembah dan mengabdi kepadaNya dalam seluruh tindakan, baik dalam pergaulan dengan sesama atau alam sekitar. Korupsi, kolusi, nepotisme tak berdasar, riba, judi, zina, mencuri dan beragam maksiat lain yang dilarang Allah akan mengakibatkan kekacauan tatanan kehidupan manusia. Sementara perusakan alam akan mengakibatkan rusaknya ekosistem dan keteraturan alam. Semua kesulitan hidup dan bencana itu tidak hanya ditanggung oleh si pelaku tetapi juga semua orang di sekitarnya. Firman Allah:

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ . ألأنفال: 25

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (Al-Anfal: 25).

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّبِيٍّ إِلاَّ أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ . ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَواْ وَّقَالُواْ قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُم بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ . وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ . الأعراف: 95-97
“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan", maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 95-97)

2. Ujian bagi orang yang beriman untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمْوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ. البقرة: 155-157

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 155-157)

Rasulullah SAW. bersabda:


عن آنس رضىالله عنه قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم: إذا اراد الله بعبده الشر امسك عنه بذنبه حتى يوفى به يوم القيمة و قال النبى صلىالله عليه وسلم إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وان الله تعلى إذا احب قوما ابتلاهم فمن رضى فله الرضا ومن سخط فله السخط. رواه ترمذى

"Dari Anas RA berkata telah bersabda Rasulullah SAW: “Jika Allah menghendaki pada seorang hambanya dengan suatu kejelakan maka Allah akan menahan dosa-dosanya sehingga dia dibalas pada hari kiamat”, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya pahala yang besar itu disertai besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila Dia mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka maka barangsiapa yang ridha dengan ujian itu maka ia mendapatkan ridha Allah dan barangsiapa yang murka dengan ujian itu, maka murka Allah atas dia”. (HR. Tirmidzi).

Senin, 11 Februari 2008

Meraih Keberuntungan Dan Kesuksesan Dunia dan Akhirat

MERAIH KEBERUNTUNGAN DAN KESUKSESAN DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh : Isa Ansori

Semua orang menginginkan keberuntungan dan kesuksesan hidup di dunia hingga akhirat. Ada yang mengatakan seseorang disebut beruntung dan sukses jika memiliki banyak uang dan harta benda lainnya. Tapi tahukah Anda bahwa menurut Allah semua orang adalah rugi dalam kedidupan dunia dan akhiratnya kecuali mereka masuk ke dalam ruang lingkup ini: Orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati untuk selalu dalam kebenaran dan saling menasehati untuk selalu bersabar.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر.ِ الْعَصْرِ: 1-3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al-Asr: 1-3)

Menurut Allah dan orang-orang yang selalu ta’at kepadaNya, orang-orang yang beruntung dan sukses adalah:

1. Orang-Orang Yang Beriman

Siapakah orang yang beriman? Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim ketika ditanya oleh Jibril tentang apakah iman itu, Beliau menjawab: “Hendaklah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari kiamat dan juga percaya pada qadar baik dan buruk”. Ini adalah keimanan Islam yang meyakini bahwa Allah adalah Esa, Allah tempat bergantung, Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatupun yang menyamaiNya. (QS: Al-Ikhlas: 1-4)

2. Beramal Sholeh.

Iman hendaknya diwujudkan dalam bentuk amal sholeh yaitu mengamalkan ajaran-ajaran Islam yakni melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya seperti tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Hakim dari Ibnu Umar bersabda:

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتى

“Aku Tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu semua tidak akan sesat selamanya (selama engkau berpegang teguh kepada keduanya) ialah Kitab Allah dan Sunnahku”.

Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Jibril tentang Islam, Beliau menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, engkau dirikan shalat, menunaikan zakat, puasa bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah jika engkau mampu”.

Secara lebih rincin Allah juga menyebutkan orang-orang mukmin yang beruntung dan sukses dalam surat Al-Mukminun 1-11:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. الْمُؤْمِنُونَ: 1-11

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya'ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (Al-Mukminun: 1-11).

Allah juga menyebut orang-orang yang berjihad di jalanNya (dalam arti luas) dengan harta benda dan jiwanya sebagai orang yang beruntung.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. (الصف: 10-12

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. (Ash-Shaaf: 10-12).

Masih banyak lagi ayat dan hadis yang menjelaskan lebih rinci tentang macam-macam amal sholeh yang tidak kami muat di sini. Kesemuanya itu hendaklah di amalkan dalam kehidupan sehari-hari bagi yang ingin beruntung dan sukses. Satu hal terpenting ketika beramal sholeh adalah niatkan kesemuanya itu ikhlas dan khusyu’ beribadah karena semata mengharap ridha Allah SWT. Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Jibril tentang Ihsan beliau menjawab: “Engkau sembah dan beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Jika engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia melihat engkau”.

3. Saling Berwasiat Untuk Selalu Melaksanakan Kebenaran Dari Allah

Setelah beriman dan beramal sholeh, agar iman dan amal sholeh itu dapat istiqomah, diperlukan suatu upaya untuk mlestarikannya ialah dengan saling berwasiat khususnya bagi sesama orang beriman dan umumnya kepada semua orang untuk selalu berada dalam kebenaran yang telah Allah tunjukkan dalam Al-Qur’an dan Hadis RasulNya. Wujud dari wasiat ini adalah dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. ال عمران: 104

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104).

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ. آل عمران: 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imron: 110)

Setiap orang dalam Islam mempunyai tanggung jawab untuk mengajak dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya untuk selalu bertaqwa kepada Allah serta mencegah dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ. التحريم : 6

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6)

Nabi SAW bersabda:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راع فمسئول عن رعيته, فالأمير الذي علي الناس راع وهو مسئول عنهم, والرجل راع علي أهل بيته وهو مسئول عنهم, والمرأة راعية علي بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم, والعبد راع علي مال سيده وهو مسئول عنه, ألافكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته. اخرجه البخاري

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, Amir yang menjadi penguasa atas manusia adalah pemimpin dia akan dimintai tanggung jawab atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarga di rumahnya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dia dimintai tanggung jawab atas mereka. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dia dimintai tanggung jawab atasnya. Ketahuilah masing-masing kamu adalah pemimpin dan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)

Jelas bahwa setiap orang bertanggung jawab agar iman dan amal sholeh dapat istiqamah atau konsisten dijalankan agar keberuntungan dan kesuksesan didapatkan, dan usaha untuk menjaga agar tetap konsisten adalah dengan mendakwahi diri dan orang lain untuk taqwa kepada Allah. Rasulullah SAW juga bersabda:

عن أبي سعيد الخدرى رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من راى منكم منكرا فليغيربيده,فإن لم يستطع فبلسنه,فإن لم يستطع فبقلبه,وذلك اضعف الايمان. رواه مسلم.

“Dari Abi Sa’id al Khudri RA berkata; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melihat diantara kamu kemunkaran maka cegahlah dengan tangannya, bila tidak mampu dengan lisannya, bila tidak mampu dengan hatinya dan yang seperti itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

4. Saling Berwasiat Untuk Selalu Bersabar Dalam Semua Keadaan

Sungguh perjuangan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya adalah bukan suatu pekerjaan ringan. Hawa nafsu jahat manusia selalu mengajak untuk tidak konsisten dalam melaksanakan iman, amal sholeh dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Godaan dan cobaan akan selalu datang untuk menguji keimanan dan ketaqwaan setiap orang. Diperlukan suatu kesabaran yang tinggi untuk dapat melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan dan mengahadapi segala cobaan dan ujian yang akan selalu datang. Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya menyatakan bahwa:

عن آنس رضىالله عنه قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم: إذا اراد الله بعبده الشر امسك عنه بذنبه حتى يوفى به يوم القيمة و قال النبى صلىالله عليه وسلم إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وان الله تعلى إذا احب قوما ابتلاهم فمن رضى فله الرضا ومن سخط فله السخط. رواه ترمذى

"Dari Anas RA berkata telah bersabda Rasulullah SAW: “Jika Allah menghendaki pada seorang hambanya dengan suatu kejelakan maka Allah akan menahan dosa-dosanya sehingga dia dibalas pada hari kiamat”, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya pahala yang besar itu disertai besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila Dia mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka maka barangsiapa yang ridha dengan ujian itu maka ia mendapatkan ridha Allah dan barangsiapa yang murka dengan ujian itu, maka murka Allah atas dia”. (HR. Tirmidzi).

Demikian mudah-mudahan kita termasuk orang yang sukses dan beruntung. Amin.

Meraih Keberuntungan Dan Kesuksesan Dunia dan Akhirat

MERAIH KEBERUNTUNGAN DAN KESUKSESAN DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh : Isa Ansori

Semua orang menginginkan keberuntungan dan kesuksesan hidup di dunia hingga akhirat. Ada yang mengatakan seseorang disebut beruntung dan sukses jika memiliki banyak uang dan harta benda lainnya. Tapi tahukah Anda bahwa menurut Allah semua orang adalah rugi dalam kedidupan dunia dan akhiratnya kecuali mereka masuk ke dalam ruang lingkup ini: Orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati untuk selalu dalam kebenaran dan saling menasehati untuk selalu bersabar.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. الْعَصْرِ: 1-3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al-Asr: 1-3)

Menurut Allah dan makhluk yang selalu ta’at kepadaNya, orang-orang yang beruntung dan sukses adalah:

1. Orang-Orang Yang Beriman

Siapakah orang yang beriman? Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim ketika ditanya oleh Jibril tentang apakah iman itu, Beliau menjawab: “Hendaklah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari kiamat dan juga percaya pada qadar baik dan buruk”. Ini adalah keimanan Islam yang meyakini bahwa Allah adalah Esa, Allah tempat bergantung, Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seuatupun yang menyamaiNya. (QS: Al-Ikhlas: 1-4)

2. Beramal Sholeh.



Iman hendaknya diwujudkan dalam bentuk amal sholeh yaitu mengamalkan ajaran-ajaran Islam yakni melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya seperti tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Hakim dari Ibnu Umar bersabda:

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتى


“Aku Tinggalkan padamu dua perkara, kamu semua tidak akan sesat selamanya ialah Kitab Allah dan Sunnahku”.

Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Jibril tentang Islam, Beliau menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, engkau dirikan shalat, menunaikan zakat, puasa bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah jika engkau mampu”.

Secara lebih rincin Allah juga menyebutkan orang-orang mukmin yang beruntung dan sukses dalam surat Al-Mukminun 1-11:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. الْمُؤْمِنُونَ: 1-11

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya'ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (Al-Mukminun: 1-11).

Allah juga menyebut orang-orang yang berjihad di jalanNya (dalam arti luas) dengan harta benda dan jiwanya sebagai orang yang beruntung.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. الصف: 10-12


“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. (Ash-Shaaf: 10-12).

Masih banyak lagi ayat dan hadis yang menjelaskan lebih rinci tentang macam-macam amal sholeh yang tidak kami muat di sini. Kesemuanya itu hendaklah di amalkan dalam kehidupan sehari-hari bagi yang ingin beruntung dan sukses. Satu hal terpenting ketika beramal sholeh adalah niatkan kesemuanya itu ikhlas dan khusyu’ beribadah karena semata mengharap ridha Allah SWT. Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Jibril tentang Ihsan beliau menjawab: “Engkau sembah dan beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Jika engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia melihat engkau”.

3. Saling Berwasiat Untuk Selalu Melaksanakan Kebenaran Dari Allah

Setelah beriman dan beramal sholeh, agar iman dan amal sholeh itu dapat istiqomah, diperlukan suatu upaya untuk mlestarikannya ialah dengan saling berwasiat khususnya bagi sesama orang beriman dan umumnya kepada semua orang untuk selalu berada dalam kebenaran yang telah Allah tunjukkan dalam Al-Qur’an dan Hadis RasulNya. Wujud dari wasiat ini adalah dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. ال عمران: 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104).

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ. آل عمران: 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imron: 110)

Setiap orang dalam Islam mempunyai tanggung jawab untuk mengajak dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya untuk selalu bertaqwa kepada Allah serta mencegah dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ. (التحريم : 6)


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6)

Nabi SAW bersabda:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راع فمسئول عن رعيته, فالأمير الذي علي الناس راع وهو مسئول عنهم, والرجل راع علي أهل بيته وهو مسئول عنهم, والمرأة راعية علي بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم, والعبد راع علي مال سيده وهو مسئول عنه, ألافكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته. اخرجه البخاري

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, Amir yang menjadi penguasa atas manusia adalah pemimpin dia akan dimintai tanggung jawab atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarga di rumahnya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dia dimintai tanggung jawab atas mereka. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dia dimintai tanggung jawab atasnya. Ketahuilah masing-masing kamu adalah pemimpin dan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)

Jelas bahwa setiap orang bertanggung jawab agar iman dan amal sholeh dapat istiqamah atau konsisten dijalankan agar keberuntungan dan kesuksesan didapatkan, dan usaha untuk menjaga agar tetap konsisten adalah dengan mendakwahi diri dan orang lain untuk taqwa kepada Allah. Rasulullah SAW juga bersabda:

عن أبي سعيد الخدرى رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من راى منكم منكرا فليغيربيده,فإن لم يستطع فبلسنه,فإن لم يستطع فبقلبه,وذلك اضعف الايمان. رواه مسلم.

“Dari Abi Sa’id al Khudri RA berkata; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melihat diantara kamu kemunkaran maka cegahlah dengan tangannya, bila tidak mampu dengan lisannya, bila tidak mampu dengan hatinya dan yang seperti itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

4. Saling Berwasiat Untuk Selalu Bersabar Dalam Semua Keadaan

Sungguh perjuangan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya adalah bukan suatu pekerjaan ringan. Hawa nafsu jahat manusia selalu mengajak untuk tidak konsisten dalam melaksanakan iman, amal sholeh dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Godaan dan cobaan akan selalu datang untuk menguji keimanan dan ketaqwaan setiap orang. Diperlukan suatu kesabaran yang tinggi untuk dapat melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan dan mengahadapi segala cobaan dan ujian yang akan selalu datang. Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya menyatakan bahwa: Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberinya beragam ujian dan cobaan.

Demikian mudah-mudahan kita termasuk orang yang sukses dan beruntung. Amin.

Menampilkan Al-Qur'an

Mencari Kata Dalam Al-Qur'an

Search in the Quran
Search in the Quran:
in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code/td>
Powered by www.SearchTruth.com

Mencari Kata (in English) Hadis Nabi SAW

Search in the Hadith
Search: in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code
Powered by www.SearchTruth.com

Mengkonversi Tanggal Masehi - Hijriah - Masehi

Alamat Rumahku


View Lokasi Rumahku in a larger map